Batu Unik yang diistimewakan Alloh 'Maqam Ibrahim'


Kata Maqam memiliki beberapa arti, namun yang dimaksudkan di sini adalah Maqam yang berarti tempat pijakan orang berdiri. Adapun Maqam Ibrahim adalah batu yang digunakan oloeh Nabi Ibrahim a.s. untuk berpijak pada waktu beliau membangun Ka'bah. Karena membangun Ka’bah adalah amalan yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia menjadikan jejak kaki Ibrahim sebagai suatu hal yang patut diperingati dan diambil pelajaran oleh anak dan cucunya.

Asal Usul Maqam Ibrahim
Setelah Nabi Ismail bersetuju untuk membantu Nabi Ibrahim membangunkan Ka’bah, maka Nabi Ibrahim bersama dengan anaknya pun mula membangun Ka’bah setelah Allah S.W.T menunjukkan kepada mereka tempat yang harus dibangun Baitullah itu.

Ada dua riwayat yang mengatakan bahwa Allah S.W.T meninggikan tapak Baitullah sebelum dibangun oleh Nabi Ibrahim dan anaknya, tapak Baitullah tidak terkena bala bencana taufan sewaktu taufan besar melanda.
Satu riwayat lagi mengatakan bahwa tapak Baitullah itu telah runtuh dalam taufan besar sepertimana runtuhnya bangunan-bangunan besar yang lain. Setelah peristiwa taufan besar melanda maka sesungguhnya tidak ada orang lain yang mulakan pembangunannya seperti semula kecuali Nabi Ibrahim dan anaknya.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memulakan pembangunan Baitullah. Nabi Ibrahim menyusun naik batu sementara Nabi Ismail pula mengutip batu-batu besar seperti yang difirman oleh Allah S.W.T yang bermaksud, “Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim bersama-sama anaknya Nabi Ismail meninggikan binaan (tapak) Baitullah (Ka’bah) sambil keduanya berdoa dengan berkata, Wahai Tuhan kami! Terimalah, daripada kami amal kami sesungguhnya Engkau amat mendengar lagi Amat Mengetahui.” (surah al-Baqarah ayat 127).

Apabila bangunan sudah meninggi, Nabi Ismail, menghulurkan batu besar yang cukup tinggi dan diambil oleh Nabi Ibrahim dan membangun Baitullah. Maka dengan kehendak Allah S.W.T sebaik saja Nabi Ibrahim meletakkan kakinya di batu besar itu, maka terlekatlah tapak kaki Nabi Ibrahim sepertimana dapat kita melihatnya sehingga hari ini dekat Baitullah. Dan ini adalah suatu tanda kebesaran Allah SWT.

Diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Sa’id bin Jubair bahwa dia berkata, “Batu itu adalah tempat Nabi Ibrahim berdiri, batu tersebut dibuat Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi lunak dan Dia jadikan sebagai rahmat dan Nabi Ibrahim berdiri di atasnya, sedangkan Nabi Ismail mengambilkan batu.”

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyetujuiku dalam 3 hal; aku berkata “Wahai Rasulullah! Andai engkau menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, lalu turun ayat,
Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS. Al-Baqarah: 125)
Yang dikatakan maqam Nabi Ibrahim itu adalah kedua belah bekas tapak kaki beliau dan bukan kubur Nabi Ibrahim.

At-Thabari dalam tafsirnya meriwayatkan dari jalur Sa’id bin Abi Urubah dari Qatadah tentang ayat di atas: “Mereka hanya diperintahkan melakukan shalat di sisinya bukan untuk mengusapnya.” Ia (Qatadah) berkata: “Orang-orang yang melihat bekas jejak telapak kaki Nabi Ibrahim di batu tersebut menceritakan kepada kami, bahwa jejak tersebut dahulunya tampak, tetapi orang-orang selalu mengusapnya hingga menjadi licin dan terhapus bersih.”

Maqam ini semenjak zaman Nabi Ibrahim menempel pada Baitullah hingga pada masa khilafah Umar radhiallahu ‘anhu. Ia memindahkannya ke belakang ke tempatnya saat ini. Hal ini diriwayatkan oleh Abdul Raqaq dalam kita “Mushannaf” dengan sanad yang shahih dari Atha dan juga dari Mujahid, dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anhu dengan sanad yang kuat, semakna dengan lafadz di atas, “Sesungguhnya maqam Ibrahim pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khilafah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu bertaut dengan Baitullah. Kemudian dipindahkan Umar radhiallahu ‘anhu ke belakang, dan para sahabat tidak mengingkari tindakan Umar radhiallahu ‘anhu dan juga orang-orang setelahnya, inai menunjukkan terjadinya Ijma.

Umar radhiallahu ‘anhu melihat bahwa membiarkan maqam tetap pada tempatnya akan berakibat sempitnya kawasan orang yang melakukan thawaf atau shalat, maka ia memindahkannya ke tempat yang dianggap dapat menyelesaikan masalah. Perbuatan Umar radhiallahu ‘anhu ini sangat dapat dibenarkan karena ia yang mengusulkan untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.

Keistimewaan Batu Maqam Ibrahim
Salah satu keistimewaan batu maqam Ibrahim (dan Hajar Aswad) adalah pemeliharaan Allah agar tidak disembah leh orang-orang musyrik (ini dapat dibuktikan dari buku sejarah, bahwa tidak ada orang musyrik yang menyembah kedua batu itu), sehingga ketika Islam datang salah satu ajarannya adalah menganjurkan umatnya mencium atau menghormati dua batu itu sebagai bukti kebesaran Alloh yang ada di bumi ini, dengan mengambil tempat Sholat di dekatnya yaitu antara Ka’bah dan Maqam Ibrahim. Shalat disini utamanya dilakukan setelah melakukan thawaf sebagai shalat sunah thawaf dan setelah itu bacalah do’a dengan khusyuk’ agar Alloh mengabulkannya.

Keutamaan Maqam Ibrahim
Beberapa keutamaan Maqam Ibrahim:
1.      Dijadikan tempat shalat
2.      Yaqut dari syurga
Rasululloh bersabda, “Rukun Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah yaqut-yaqut syurga. Andaikata Alloh tidak menghilangkan cahayanya, pastilah ia akan memancarkan cahaya antara timur dan barat.”
3.      Tempat dikabulkannya do’a.
Imam Hasan Al-Bashri dan yang lainnya dari kalangan ulama mengatakan bahwa do’a di belakang Maqam itu mustajab.

Penyeruan Perintah Mengerjakan Haji
Setelah selesai pembinaan Baitullah, maka Allah S.W.T memerintahkan Nabi Ibrahim memberi kebenaran kepada umat manusia menunaikan haji di Baitullah. Firman Allah S.W.T yang bermaksud, “Dan serulah umat manusia untuk datang mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang ke (Rumah Allah)mu dengan berjalan kaki, dengan berkenderaan berjenis-jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan (ceruk rantau) yang jauh.” (surah al-Haj ayat 27).

Setelah itu Nabi Ibrahim naik ke gunung (Jabal) Abi Qubais satu gunung yang paling dekat dengan baitullah dan di sana beliau memanggil dengan nama Allah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan kamu telah membina satu rumah-Nya bagi kamu, oleh itu hendaklah kamu semua tunaikan haji di sana.”
Nabi Ibrahim menyeru ke kanan dan ke kiri seolah-olah orang mengumandangkan azan. Allah S.W.T menyampaikan seruan Nabi Ibrahim a.s pada setiap orang yang diciptakan dalam bacaan talbiah dan itulah pernyataan semua orang yang mengerjakan fardhu haji, karana haji itu tidak akan sah tanpa talbiah.
Bacaan talbiah antara lainnya, “Labbaikallahhummalabbaik” yang bermakna, aku datang untuk menunaikan panggilan-Mu ya Allah.

Menunaikan haji adalah salah satu rukun Islam, oleh itu hendaklah kita menunaikannya apabila kita sudah mampu melaksanakannya. Banyak orang menunaikan haji, tetapi sekembali mereka dari menunaikan haji yang sangat menyedihkan ialah terdapat juga orang yang melakukan maksiat lebih buruk dari masa sebelum menunaikan haji. Oleh karena itu, hendaklah kita mulakan dengan sembahyang, puasa, zakat dan seterusnya menunaikan haji.

Kalau kita menunaikan haji tanpa mengerjakan sembahyang lima waktu maka sia-sia saja haji yang kita lakukan sebab ia tidak akan diterima oleh Allah SWT. Dan ini adalah salah satu puncak mereka yang kembali dari menunaikan haji melakukan bermacam-macam maksiat.

Bagi mereka yang mendapat kenikmatan haji mereka ini tidak akan berani melakukan kerja-kerja yang dimurkai oleh Allah S.W.T sebaliknya mereka akan berusaha untuk menjadi muslim yang sempurna. Tanpa mengerjakan sembahyang, maka semua kerja-kerja yang berbentuk amal, sedekah, zakat dan sebagainya semuanya itu tidak akan diterima oleh Allah SWT.


Sumber:
1.       Asal-usul Maqam Nabi Ibrahim AS. Diambil dari http://nerys2.wordpress.com dengan sumber 1001 kisah teladan
2.       Hikmah Ibadah Haji. 2005. Departemen Agama RI

3.       Urgensi Mekah Al-Mukarromah dan kedudukannya dalam Islam (bagian 6). 2012. Diambil dari: www.kisahmuslim.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Batu Unik yang diistimewakan Alloh 'Maqam Ibrahim'"

Posting Komentar